|
 Sekitar 60% bayi memiliki pembawaan berani mengambil risiko (adventours), sedangkan 40% sisanya lebih hati-hati.
Siapa bilang bayi tidak berani mengambil risiko? Angka hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa bayi dengan pembawaan berani mengambil risiko lebih banyak (60%) daripada yang tidak (40%). Selain itu, dalam pengamatan sehari-hari pun akan terlihat dengan mudah. Mereka yang tengah belajar merambat, contohnya, akan coba-coba naik ke atas tempat tidur, padahal belum tentu bisa dan risikonya akan terjatuh. Toh semangat untuk mengambil risiko jatuh tak menyurutkan langkah mereka. Begitu juga saat belajar merangkak ke bawah tempat tidur, membalik-balikkan selimut, memanjat-manjat dan sebagainya. Pada prinsipnya, manusia dibekali insting untuk bertahan hidup. Salah satunya ya dengan menjelajah. Dengan menjelajah, manusia lebih mengenal lingkungan sekitarnya sehingga lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan. Keinginan manusia mengenal lingkungan ini tidak terkait dengan usia. Umumnya, manusia sudah menunjukkan keinginan untuk menjelajah sejak bayi. Ulah menjelajah ini meski bersifat konstruktif, sekaligus mengandung risiko, lo. Bukankah saat menjelajah anak sangat berpeluang terantuk saat merangkak ke kolong tempat tidur ataupun terpeleset saat memanjat?
Yang pasti, mengenalkan risiko bertujuan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangannya. Disamping membuat anak lebih siap untuk melindungi dirinya sendiri. Sebaliknya, dampak tidak memperkenalkan risiko pada anak bisa mengundang bahaya karena anak jadi tidak belajar melindungi diri sendiri. Melihat teman-teman seumurnya mampu melakukan banyak hal, sementara dia tidak, tentu berpotensi memunculkan rasa rendah diri.
5 LANGKAH TEPAT
Semakin muda usia anak, penjelasan yang diberikan harus makin nyata dan simpel terkait dengan karakteristik bayi yang memahami dunia lewat rangsangan sensoris. Apa yang dapat dilakukan?
1. Beri contoh semestinya. Orangtua harus memberikan contoh bagaimana melakukannya dengan benar. Misalnya saat anak belajar memanjat-manjat, berikan contoh untuk berpegangan dengan erat di tempat yang kokoh, seperti pinggiran tempat tidur dan sebagainya.
2. Dampingi anak. Dampingi anak saat mencoba hal-hal "seru". Contohnya, ketika anak mencoba memanjat-manjat, orangtua harus berada dalam jarak yang aman. Dengan demikian begitu anak terlihat limbung, orangtua bisa langsung menangkapnya sebelum anak terjerembab dan membentur lantai.
3. Jangan kecilkan hatinya. Beri penjelasan proporsional dan jangan pernah membuatnya kecil hati. Contoh, bayi terlihat senang bermain-main dengan semut, katakan saja, "Sayang, kalau main dengan semut bisa digigit dan gatal lo. Yuk, main yang lain saja."
4. Jangan heboh. Banyak orangtua yang sedemikian heboh saat melihat anaknya "dalam bahaya". Misalnya, "Aduh, itu kan kecoaa... hiii... jangan disentuh!" Reaksi spontan, baik dalam ucapan maupun ekspresi wajah seperti ini, jelas tidak disarankan. Bayi akan "tertular" ketakutan yang sama hingga di lain waktu akan kehilangan keberanian untuk mengambil risiko.
5. Lakukan persiapan. Kalau orangtua memang merasa anaknya termasuk berani mengambil risiko, tak ada salahnya melakukan persiapan sebelumnya. Misalnya saat si kecil mulai merangkak/memanjat, sebaiknya pastikan di kamar/rumah tidak ada sudut yang membaha- yakan. Simpan benda tajam, yang mengandung listrik/panas di tempat aman. Atau kalau anak sangat "bernyali" pada binatang, sebaiknya sediakan bedak/losion antigatal. Jadi, begitu anak terkena gigitan serangga, bisa segera diatasi.
6. Sabar & bervariasi. Orangtua dituntut untuk sabar saat menerangkan kepada si bayi mengenai risiko dari aktivitas yang dilakukannya. Variasikan cara menerangkan kepada anak, baik secara verbal, visual ataupun gerakan/kinestetis. Jangan bosan untuk mengulang-ulangnya. Jangankan bayi, orang dewasa sering kali harus diberikan penjelasan berulang-ulang.
"MENURUN" DARI ORANGTUA? Sering kali anak jadi takut mengambil risiko justru karena orangtua kelewat "hati-hati". Takut kotor, takut jatuh, takut pada binatang dan sebagainya. Sedikit banyak anak akan meniru sikap orangtuanya. Ayah/ibu seharusnya lebih bersikap terbuka terhadap pasangan jika dia termasuk orang yang kurang berani mengambil risiko. Kalau pasangan juga termasuk dalam kelompok “hati-hati”, mau tak mau keduanya harus banyak belajar dari orang lain atau referensi.Selamat berusaha Anda pasti bangga punya anak pemberani.
Marfuah Panji Astuti. Ilustrasi Pugoeh Narasumber: Sali Rahadi Asih, M. Psi., Master of Grief and Palliative Care Counseling Candidate The University of Adelaide
Artikel Terkait:Herpes Genitalis dan bayi CacatMenepuk air di dulang, tepercik muka sendiri. Karena itu dapat dimaklumi betapa sulitnya menemukan seseorang yang secara dini mau mengakui dirinya... Bayi Laki-laki atau Perempuan ada KiatnyaSecara ilmiah, penentuan jenis kelamin calon bayi sangat dipengaruhi oleh jenis kromosom yang berhasil menjangkau sel telur. Bila kromosom X yang... Cara Gampang Merawat Kulit Bayi dan BalitaBerbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga... Mengapa nafas bayi berbunyi? Hampir 80% anak-anak yang menderita asma menunjukkan beberapa gejala alergi di awal-awal kelahiran mereka. Namun demikian tidak selalu alergi... Aneka Penyebab Bayi Sesak NafasBanyak penyebab sesak napas pada bayi. Yang jelas, segera bawa ke dokter atau rumah sakit karena bisa fatal akibatnya. Kasus sesak napas pada usia...
Artikel Paling Banyak Dibaca:Resep Makanan Bayi Umur 6-12 Bulan
1. PUDING ROTI APEL
BAHAN :
150 gr apel, cuci belah empat dan buang bagian tengahnya 75 gr roti tawar buang tepinya dan iris kecil 50 ml... Tabel Berat & Tinggi Badan Rata-RataBerapa berat dan tinggi ideal anak Anda? Berikut adalah tabel Berat & Tinggi Badan Rata-Rata untuk anak berumur 0 - 5 tahun, tanpa membedakan... Diare pada Bayi
Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi. PENYEBAB... Rumus untuk Menghitung Berat Badan IdealTernyata, rumus untuk menghitung berat badan ideal telah ada sejak lebih dari seabad lalu. Rumus berat badan ideal yang pertama dibuat oleh seorang... Menu Makanan Anak Usia 1-2 Tahun (12-24 Bulan)Pada prinsipnya, begitu anak menginjak usia 1 tahun, dia sudah dapat mengkonsumsi makanan yang istilahnya ...
Trackback(0)
|