| Kedelai Kikis Habis Kanker Payudara |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | |||
| Kamis, 10 May 2007 02:55 | |||
|
Kemampuan senyawa anti oksidan yang ditemukan dalam kedelai untuk mengurangi kadar hormon yang terkait dengan risiko kanker payudara sudah tidak disangsikan lagi. Namun kali ini sebuah penelitian menemukan bahwa faktor lain yang terkait dengan kedelai ternyata juga berperan penting dalam menurunkan risiko kanker itu sendiri. Para peneliti menemukan bahwa sebanyak sembilan wanita pra-menopause sehat yang mengkonsumsi diet yang mengandung susu kedelai dimana sebagian besar senyawa anti-oksidannya, isoflavon telah dihilangkan. Diet tersebut ternyata bisa menurunkan kadar hormon estrogen dan progesteron dibanding sebelum menambahkan kedelai dalam diet tersebut. Meskipun demikian hormon-hormon reproduksi lainnya tidak terpengaruh oleh diet yang mengandung protein hewani berkadar rendah dan berkadar serat tinggi itu, demikian jelas para pakar. Hormon estrogen bisa merangsang pertumbuhan beberapa jenis sel kanker dan diperkirakan memiliki peranan penting dalam perkembangan beberapa kasus kanker payudara. Para wanita yang mengalami paparan estrogen lebih banyak, misalnya mereka yang mendapat menstruasi lebih dini, mereka yang tidak memiliki anak dan para wanita yang tidak menyusui bayinya — menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker payudara. Hormon progesteron juga turut memberi andil pada risiko pertumbuhan kanker payudara. Dr. Lee-Jane W. Lu, dan rekan-rekannya di University of Texas Medical Branch Galveston mengukur kadar estrogen, progesteron, hormon pengikat seks(globulin), hormon lutein dan hormon perangsang folikel, pada para wanita sebelum mereka memulai diet tersebut. Dua hormon terakhir berfungi untuk merangsang fungsi ovarian. Para wanita itu mengkonsumsi 36 ons susu kedelai yang mengandung kurang dari 5 milligram isoflavon setiap harinya, selama sebulan penuh. Diet tersebut lebih banyak mengandung karbohidrat dan lebih sedikit protein dibandingkan diet yang biasa dimakan para wanita itu. Sumber: Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism.
Set sebagai favorit
Bookmark
Email
Hits: 2688 Trackback(0)
Komentar (0)
![]() Tulis komentar
|






