Ular Hitam Bukit Kangin PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 11 Januari 2010 07:53

Di daerah pedalaman pulau Bali terdapat sebuah desa yang subur, makmur, aman dan damai bernama desa Tenganan. Namun, pada suatu hari penduduk desa dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki yang berpakaian compang-camping seperti layaknya pengembara yang kehabisan bekal. "Siapakah namamu? Darimana asalmu?" tanya seorang pemuka mayarakat bernama Jero Pasek Tenganan. "Nama saya I Tundung. Saya orang miskin, tidak punya tempat tinggal tetap," jawab lelaki itu.

Jero Pasek Tenganan merasa iba melihat keadaan I Tundung. Lantas ia memberikan makanan dan minum secukupnya. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya disampaikan I Tundung kepada Jero Pasek Tenganan. "Maaf, tuan. Kalau tuan berkenan, saya ingin mengabdikan diri kepada tuan," pinta I Tundung. "Pekerjaan apapun yang tuan berikan, akan saya kerjakan dengan senang hati," tambah I Tundung. Karena kasihan Jero Pasek menerima permintaan I Tundung. Maka, mulai saat itu I Tundung tinggal di rumah Jero Pasek.

I Tundung sangat rajin bekerja. Selain bercocok tanam di sawah dan di ladang, ia pun memelihara ternak. Hasil taninya sangat memuaskan. "Hem, dia mempunyai tangan dingin. Sehingga tanaman apa pun yang ia tanam tumbuh subur dan hasilnya melimpah," kata seorang petani kepada temannya. "Dan ia mempunyai bakat beternak. Sehingga ternak jenis apa pun cepat menjadi gemuk dan beranak pinak," ucap teman petani itu.

Melihat hasil kerja yang berlimpah itu, I Tundung tidak sombong. Ia bahkan menularkan ilmu taninya kepada petani lain. Namun, kunci keberhasilannya adalah harus tekun dan rajin bekerja. Pada suatu hari, Jero Pasek memanggil I Tundung. "Melihat hasil pekerjaanmu, aku akan menyerahkan sebidang tanah di Bukit Kangin. Tanah itu tandus dan gersang, sehingga tidak ada orang yang mau mengolahnya," kata Jero Pasek kepada I Tundung. "Aku yakin, kau mampu menggarapnya dan hasilnya pun akan melimpah," tambah Jero Pasek.

Sejak saat itu, I Tundung pindah tempat tinggalnya ke Bukit Kangin. Ia menggarap lahan yang tandus dan gersang itu bukan hanya dengan tenaga yang digunakan, tetapi akal. I Tundung melihat ada sebuah mata air di lereng gunung. "Hem, mata air itu akan kualirkan kemari. Dengan begitu, aku akan lebih mudah menggarap lahan ini," gumam I Tundung penuh keyakinan. Dengan segala daya upaya yang tiada henti, akhirnya air dari mata air di lereng gunung itu berhasil dialirkan ke Bukit Kangin. Ia mulai bercocok tanam padi, jagung dan sayur mayur.

Tibalah saat panen. Hasilnya melimpah ruah. Jero Pasek memuji keberhasilan I Tundung. "Aku sangat bangga dengan usahamu yang tak kenal lelah. Kau bisa membuktikan kecakapanmu bertani. Maka mulai saat ini, kau kuberi tugas untuk menggarap lahan di seluruh bukit," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Ternyata I Tundung bisa mengolah lahan di Bukit Kangin menjadi tanah pertanian dan peternakan yang maju.

Setelah Jero Pasek dan I Tundung menikmati hasil dari lahan di Bukit Kangin, terjadilah musibah. Hampir setiap malam hasil lahan pertaniannya banyak yang hilang. Bukan hanya itu. Ternak yang dipelihara di lahan itu pun satu demi satu hilang dari kandangnya. Betapapun I Tundung sudah menjaga sekuat tenaga, namun tetap saja terjadi pencurian.

"Aku sangat kecewa dengan kejadian yang sangat merugikan itu. Mungkin, kau sudah bosan merawat atau menjaga lahan pertanian dan ternak, sehingga sering terjadi pencurian itu," kata Jero Pasek kepada I Tundung. Tentu saja, perasaan hati I Tundung bagaikan tertusuk pisau mendengar ucapan Jero Pasek itu.

I Tundung sangat malu dengan Jero Pasek, karena tidak bisa mengatasi pencurian yang berada di lahan garapannya. Setiap malam ia merenung sambil memutar otak bagaimana cara mengatasi pencuri yang lihat itu. Di tengah malam yang hening, I Tundung masuk ke sebuah pura di lahan garapannya. Pura itu bernama Pura Naga Sundung. Ia berdoa sangat khusuk mohon agar dapat mengatasi pencurian yang sangat merugikan itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara gaib yang terngiang-ngiang ditelinganya.

"Permohonanmu dikabulkan, asalkan kau mau mengikuti perintahku," bunyi suara gaib. Kau harus rela berubah menjadi ular hitam, tambah suara gaib itu. Jadikanlah diri hamba apa saja, asalkan hamba dapat menghapus rasa malu dan dapat mengabdi pada tuan Jero Pasek," ucap I Tundung. Setelah mengucapkan kata-kata itu. I tundung merasakan kaki dan lehernya bertambah panjang dan berubah menjadi seekor ular hitam yang besar.

Pada suatu hari, Jero Pasek ingin menemui I Tundung di lahan Bukit Kangin. Namun, setelah ia menyusuri seluruh bukit, ternyata ia tidak menemukan I Tundung. Jero Pasek tak putus asa mencari I Tundung. Tibalah ia di Pura Sundung. Betapa terkejutnya ia melihat ada seekor ular hitam legam yang sangat besar. "Jangan takut, tuan Jero Pasek. Hamba adalah I Tundung yang telah menjelma menjadi ular hitam. Hamba berjanji tetap mengabi pada tuan dan bersedia menjaga lahan Bukit Kangin ini. Bila ada yang berani mencuri hasil lahan dan ternak, mereka akan ku usir," ucap I Tundung.

"Maafkan aku, I Tundung. Bukannya aku tidak mempercayaimu. Melainkan aku ingin memberi kepercayaan sepenuhnya kepadamu untuk mengolah, merawat dan menjada hasil lahan di Bukit ini," kata Jero Pasek mantap. "Nah, mulai sekarang kau kuberi tugas untuk menjaga lahan ini sampai anak keturunanmu," lanjut Jero Pasek. Mendengar tugas itu, ular hitam legam yang dinamai Lelipi Selem Bukit itu perlahan-lahan masuk ke semak-semak. Sejak itu, di Bukit Kangin tidak ada lagi pencurian.

Moral : Sebuah kesetiaan yang tulus, diperlukan pengorbanan apa pun bentuknya. Hal ini telah dibuktikan oleh I Tundung yang mengabdi kepada Jero Pasek Tenganan.



Artikel Terkait:
Teh Hitam Kurangi Risiko Jantung
Untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung koroner, kanker, diabetes, dan penyakit sejenis yang disebabkan oleh radikal bebas, para ahli...
Asal Mula Bukit Catu
Alkisah di pedalaman Pulau Bali, terdapat sebuah desa yang subur dan makmur. Sawah dan ladangnya selalu memberikan panen yang berlimpah. Di desa...
Ular Dandaung
Di kisahkan pada dahulu kala ada sebuah kerajaan besar dan termasyhur di wilayah Kalimantan Selatan. Letak kerajaan tersebut diapit dua buah gunung...


Artikel Paling Banyak Dibaca:
Resep Makanan Bayi Umur 6-12 Bulan
1. PUDING ROTI APEL BAHAN : 150 gr apel, cuci belah empat dan buang bagian tengahnya 75 gr roti tawar buang tepinya dan iris kecil 50 ml...
Tabel Berat & Tinggi Badan Rata-Rata
Berapa berat dan tinggi ideal anak Anda? Berikut adalah tabel Berat & Tinggi Badan Rata-Rata  untuk anak berumur 0 - 5 tahun, tanpa membedakan...
Diare pada Bayi
Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi. PENYEBAB...
Rumus untuk Menghitung Berat Badan Ideal
Ternyata, rumus untuk menghitung berat badan ideal telah ada sejak lebih dari seabad lalu. Rumus berat badan ideal yang pertama dibuat oleh seorang...
Menu Makanan Anak Usia 1-2 Tahun (12-24 Bulan)
Pada prinsipnya, begitu anak menginjak usia 1 tahun, dia sudah dapat mengkonsumsi makanan yang istilahnya ...

Trackback(0)
Komentar (0)add comment

Tulis komentar

security image
Write the displayed characters


busy
 
Balita-Anda Online
Panduan Orangtua yang Cerdas, Kreatif dan Inovatif dalam Merawat dan Mendidik Bayi / Balita

 

Balita-Anda

Kalender Kesuburan

Silakan pilih hari pertama periode terakhir masa menstruasi Anda:

- -

Lama Siklus

Milis Balita-Anda

untuk bergabung dengan milis Balita-Anda silakan kirim email kosong ke:
balita-anda-subscribe@balita-anda.com

Link Bermanfaat


d’BC Network
Sambil jaga anak, sambil dandan, sambil masak, sambil berbisnis via internet.
Hanya di d’BC Network



Malino Voyage Tickets
Anda perlu tiket pesawat dengan harga lebih murah dari harga web? Plus ada diskon khusus untuk Anggota Balita-Anda silakan hubungi kami di Malino Voyage atau Telp/SMS ke 089623130099 atau hubungi Webmaster Balita-Anda


Login Anggota

Sign in with Facebook
0 users and 489 guests online
www.balita-anda.com-together
     
    
Home Dongeng Anak Ular Hitam Bukit Kangin
Banner
Banner